Semenjak hari itu ketika kamu
bercerita tentang perasaanmu, aku merasakan rasa penyesalan yang dalam. Semenjak
hari itu aku tidak lagi merasa memiliki jarak terhadapmu. Tapi bulan demi bulan
berlalu ternyata apa yang aku tunggu menambah sebuah ragu. Semakin kesini,
semakin tak pernah aku dapati sebuah kebenaran tentang perasaanmu.
Baiklah, aku akan melupakan
sejenak harapan yang pernah tersemogakan. Terlupakan sejenak, namun
pertemuan-pertemuan mulai mengangkat lagi rindu yang sudah tertanam dalam. Entah
kita atau hanya aku memang belum bisa sepenuhnya lupa. Kita hanya sejenak
melupakan jarak, mencari pelarian kemudian terlantun kembali lagu lama yang
entah siapa yang menciptakan.
Aku menyesal membiarkanmu
berlarut dalam ketidaktahuan sehingga membuat tanda tanya besar terngiang di
kelapamu. Kurasa memang ruang yang membatasi dua perasaan itu masih ada. Buktinya,
kau belum bisa melakukan analisa dan memecahkan rasa penasaranmu sendiri
terhadapku. Tapi oke, mungkin bukan sepenuhnya salahmu(juga).
Kemudian waktu tidak mau tau. Dia
berlalu tanpa membantu sedikitpun pergerakan(aku dan kamu). Hari hari
selanjutnya kebekuan mulai terasa. Setiap percakapan yang tercipta semakin
membuat sakit. Drama diatas drama aku menyebutnya. Dan sampai saat ini kita
merasa malu setiap berucap, setiap pertemuan memunculkan keraguan baru yang
membuat kita semakin jauh. Kita semakin tidak mengenali suasana yang ada,
semakin jenuh tapi apa dayaku yang hanya
bisa memelihara rasa takut demi melindungi perasaan orang lain yang mungkin
tidak kamu mengerti.
Tapi setidaknya kita sudah sama
tahun bukan? Walaupun, tidak pernah ada
keberanian untuk mencoba.
Bintaro, 20 April 2018
-menjelang hari Kartini-