Selasa, 28 Maret 2017

#MYSTORY9 Jangan Sibuk Mencari yang Terbaik

Jangan terlalu sibuk mencari yang terbaik
Nanti kamu terlena akan kebaikannya
Jangan terlalu pandai memilih
Nanti dapat yang busuk dalamnya
Bersiaplah ,berencana!
Belajar bagaimana caranya untuk memantaskan diri
Karena menjadi terpilih bukan suatu kebetulan
Inginmu,inginku,ingin kita mungkin memang banyak
Tapi belajarlah untuk menjadi layak
Dicintai bukan hanya karena materi
Bukan hanya karena jasmani
Bukan hanya karena gengsi
Bukan hanya karena peduli
Seseorang bercerita tentang kenyamanan
Bahwa tidak peduli bagaimana rupa dan kehidupannya
Dia merasa dimiliki , dia tidak perlu memakai topeng untuk terlihat baik
Tidak memaksa untuk meninggalkan apa yang di sukai
Tidak menghentikan cita-cita yang dari dulu telah dia rangkai rapi
Dia merasakan bagaimana rasa itu dibangun dengan hati
Tapi mungkin sedikit yang menyadari
Karena masa kini, banyak hubungan hanya untuk sebuah pencitraan
Seseorang berkata lagi
Menilai hubungan tidak bisa dengan seberapa banyak dia menghabiskan waktu berdua
Seberapa lama nama seseorang menjadi penghias bio di beberapa akun social media
Seberapa dekat dia dengan keluarga pasangannya
Seberapa romantis dia membuat kejutan ulang tahun untuk pasangannya
Kenyamanan itu dimana mereka bisa saling mengerti dan melindungi
Hanya mereka yang tahu , mereka yang ciptakan(bukan malah mengikuti jejak-jejak pasangan lain karena disebut “relationship goals”)
Belajarlah untuk memantaskan diri. ,menjadi terpilih itu adalah sebuah penghargaan

Bintaro, 28 Maret 2017

Now Playing- Seberapa Pantas(Sheila On 7)







Rabu, 22 Maret 2017

#MYLIFE6 rumah

Meninggalkan kota yang telah bertahun-tahun membesarkan kita mungkin terasa berat. Namun, apa yang orang katakan itu benar, hidup itu pilihan . Tidak ada seorangpun yang akan mengabaikan hal yang katanya akan memperbaiki masa depan yang pada akhirnya mengacu pada memperbaiki keturunan. Hal yang paling tidak aku suka, beberap hari sebelum pulang keperantauan, meninggalkan(lagi) rumah yang bagiku lebih dari sekedar tempat berteduh, meninggalkan orang-orang yang tidak pernah lepas dari setiap apa yang aku semogakan.
            Aku tidak pernah mengerti mengapa bisa seberat ini kaki ketika hendak kembali(ke perantauan). Mengapa terasa riang sekali kaki ketika beberapa hari sebelum bertemu kampung halaman . Beberapa orang mungkin sudah biasa dengan rutinitas padat di perkotaan, jauh dari kentetraman kampung halaman, lalu pulang yang katanya hanya beberapa hitungan kali dalam 365 hari. Namun,itu pilihan.
            Bagaimanapun, rumah selalu nyaman untuk disinggahi. Ruang TV selalu menjadi ruang favorit untuk saling berbagi . Mungkin benar adanya yang mereka bilang, rumah itu surga.
            Mimpi yang dulu tertulis rapi di dinding-dinding kamar yang membawaku ke kota ini. Meninggalkan jejak kaki di jalan yang pernah kutapaki jauh di pinggir barat pantai sumatera. Katanya mimpi itu harus dikejar, dan aku masih dalam proses mencoba,masih dalam scenario, mengikuti apa yang diisyaratkan-Nya tanpa pernah tau kemana perjalanan ini akan berlabuh.
            Mendengar cerita-cerita dan membaca tulisan tentang bagaimana suatu tempat bisa merubah hidup kita, sikap dan kebiasaan kita. Hampir 20 tahun terlahir dan aku merasa lemah . Lemah karena selalu merasa pilu saat sadar jauh dari orang tua, lemah karena sadar bahwa umurku bertambah dan orang tuaku semakin menua, suatu hal yang tidak mau aku sadari sebenarnya tapi terpaksa.
            Aku membangun sekuat-kuatnya pondasi untuk berpijak disana, menyusun potong demi potong asa yang harus menemui satu titik terang. Namun pertahananku harus kulepaskan untuk pertahanan yang baru , pertahanan yang mulai kubangun tepat 1,5 tahun yang lalu. Di kota tempat beribu orang menaruh harapan untuk kehidupan(namun sebagian harus kalah karena ketidaksabaran). Kehidupanku(sekarang), jauh dari hingar bingar ombak yang aku hampir bosan mendengarnya(dulu), jauh dari pepohonan yang menjadi ladang penghasilan, jauh dari kesunyian yang datang kala malam tiba(tapi tetap saja,hatiku tidak pernah sunyi berada disana), jauh dari perbukitan hijau yang berbaris menyejukkan mata.
            Aku menulis ini bukan ketika aku bersiap untuk kembali memulai pertarungan. Aku menulis ini ketika…… hati sudah tidak bisa berkompromi, jiwa yang sudah lelah dan merasa ingin kembali . Tapi mimpi, memaksa untuk bertahan dan jangan pernah pergi, apapun yang terjadi.
                                                                                                            Bintaro, 22 Maret 2017

                                                            Penikmat langit barat sumatera, dengan perasaan rindu

Kamis, 09 Maret 2017

#MYLIFE5 Takut Menjadi Dewasa Tak Berguna



Note : Tulisan ini tidak menyindir siapa-siapa. Hanya mencoba menulis apa yang difikirkan. Mencoba menyadarkan (terutama diriku sendiri) tentang fenomena zaman sekarang…….

Mencoba untuk menyadari bahwa tahun ini benar benar berkepala dua, dimana babak baru akan dimulai. Mencoba menjadi dewasa dan mulai berfikir jernih tentang apa yang akan aku lakukan setelah ini dan apa yang telah aku capai selama 20 tahun ini(nanti, sekarang belum genap).
            Kekhawatiranku bermula ketika aku membuka beberapa media social,  melihat beberapa anak muda yang membagikan beberapa cerita mulai dari mereka lagi dimana berbuat apa sampai beberapa tag2an yang menandakan mereka sedang bersama siapa. Ada yang kukenal beberapa dari mereka yang membagikan postingan tersebut. Ada yang kutahu bahwa mereka aktif di beberapa organisasi, ada juga mereka yang hobby kesana kemari mencari sesuatu entah apa itu, ada yang membagikan berita padahal dia sendiri tidak mengerti apa yang ada di berita tersebut, ada yang komen “cantik kak”, “taken by”, atau bahkan berkomentar yang sama sekali tidak sesuai dengan foto(kalau kata anak sekarang : nirfaedah) ,ada juga yang memakai identitas palsu bahwa mereka sebenarnya tidak seperti apa yang mereka tampilakan di media social.
            Oh ya, pasti kalian yang mengaku update pasti tau atau mungkin hafal dong dengan lagu “panj*t sosia*” . kalau diperhatikan liriknya, punya moral value tersendiri loh. Sebagai sindiran tentang bagaimana anak sekarang, tentang pencitraan, dan tentang fenomena anak sekarang . Sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari ke-update-an tersebut? Status? Orang-orang juga tidak menilai kita dari apa yang kita lakukan di media social loh, tidak efektif kalau hal tersebut dijadikan indeks penilaian(sama halnya dengan kalian menilai bahwa hubungan satu pasangan itu romantic hanya dari foto).
            Dibalik cerita-cerita tersebut, aku(yang termasuk juga pengguna media social) berfikir dan merasa takut jika aku menjadi dewasa yang tak berguna. Takut menjadi seorang mahasiswa kuliah-medsos, kuliah-medsos. Hehehe ,gak lucu juga sih ya. Tapi aku mengakui, ada kekhawatiran dalam diriku tentang kita(entah masih bisa disebut ABG  atau tidak). Tentang bagaimana kita dapat bermanfaat untuk orang lain, bagaimana kita berkontribusi terhadap hal-hal kecil di sekitar kita. Hanya merasa takut jika nanti menjadi tua yang membosankan tanpa pengalaman karena terlena akan keterbukaan media, terlena akan kemudahan jaringan, dan mungkin terlena akan teman. Apalah apalah…..

                                                                                                            Bintaro, 9 Maret 2016

                                                                                                                    -anak 90’an-