Meninggalkan
kota yang telah bertahun-tahun membesarkan kita mungkin terasa berat. Namun,
apa yang orang katakan itu benar, hidup itu pilihan . Tidak ada seorangpun yang
akan mengabaikan hal yang katanya akan memperbaiki masa depan yang pada
akhirnya mengacu pada memperbaiki keturunan. Hal yang paling tidak aku suka,
beberap hari sebelum pulang keperantauan, meninggalkan(lagi) rumah yang bagiku
lebih dari sekedar tempat berteduh, meninggalkan orang-orang yang tidak pernah
lepas dari setiap apa yang aku semogakan.
Aku tidak pernah mengerti mengapa bisa seberat ini kaki
ketika hendak kembali(ke perantauan). Mengapa terasa riang sekali kaki ketika
beberapa hari sebelum bertemu kampung halaman . Beberapa orang mungkin sudah
biasa dengan rutinitas padat di perkotaan, jauh dari kentetraman kampung
halaman, lalu pulang yang katanya hanya beberapa hitungan kali dalam 365 hari.
Namun,itu pilihan.
Bagaimanapun, rumah selalu nyaman untuk disinggahi. Ruang
TV selalu menjadi ruang favorit untuk saling berbagi . Mungkin benar adanya
yang mereka bilang, rumah itu surga.
Mimpi yang dulu tertulis rapi di dinding-dinding kamar
yang membawaku ke kota ini. Meninggalkan jejak kaki di jalan yang pernah
kutapaki jauh di pinggir barat pantai sumatera. Katanya mimpi itu harus
dikejar, dan aku masih dalam proses mencoba,masih dalam scenario, mengikuti apa
yang diisyaratkan-Nya tanpa pernah tau kemana perjalanan ini akan berlabuh.
Mendengar cerita-cerita dan membaca tulisan tentang
bagaimana suatu tempat bisa merubah hidup kita, sikap dan kebiasaan kita.
Hampir 20 tahun terlahir dan aku merasa lemah . Lemah karena selalu merasa pilu
saat sadar jauh dari orang tua, lemah karena sadar bahwa umurku bertambah dan
orang tuaku semakin menua, suatu hal yang tidak mau aku sadari sebenarnya tapi
terpaksa.
Aku membangun sekuat-kuatnya pondasi untuk berpijak
disana, menyusun potong demi potong asa yang harus menemui satu titik terang.
Namun pertahananku harus kulepaskan untuk pertahanan yang baru , pertahanan
yang mulai kubangun tepat 1,5 tahun yang lalu. Di kota tempat beribu orang
menaruh harapan untuk kehidupan(namun sebagian harus kalah karena
ketidaksabaran). Kehidupanku(sekarang), jauh dari hingar bingar ombak yang aku
hampir bosan mendengarnya(dulu), jauh dari pepohonan yang menjadi ladang
penghasilan, jauh dari kesunyian yang datang kala malam tiba(tapi tetap
saja,hatiku tidak pernah sunyi berada disana), jauh dari perbukitan hijau yang berbaris
menyejukkan mata.
Aku menulis ini bukan ketika aku bersiap untuk kembali
memulai pertarungan. Aku menulis ini ketika…… hati sudah tidak bisa
berkompromi, jiwa yang sudah lelah dan merasa ingin kembali . Tapi mimpi,
memaksa untuk bertahan dan jangan pernah pergi, apapun yang terjadi.
Bintaro,
22 Maret 2017
Penikmat
langit barat sumatera, dengan perasaan rindu

Sangat bagus sekali
BalasHapusterima kasih sudah berbagi