Rabu, 22 Maret 2017

#MYLIFE6 rumah

Meninggalkan kota yang telah bertahun-tahun membesarkan kita mungkin terasa berat. Namun, apa yang orang katakan itu benar, hidup itu pilihan . Tidak ada seorangpun yang akan mengabaikan hal yang katanya akan memperbaiki masa depan yang pada akhirnya mengacu pada memperbaiki keturunan. Hal yang paling tidak aku suka, beberap hari sebelum pulang keperantauan, meninggalkan(lagi) rumah yang bagiku lebih dari sekedar tempat berteduh, meninggalkan orang-orang yang tidak pernah lepas dari setiap apa yang aku semogakan.
            Aku tidak pernah mengerti mengapa bisa seberat ini kaki ketika hendak kembali(ke perantauan). Mengapa terasa riang sekali kaki ketika beberapa hari sebelum bertemu kampung halaman . Beberapa orang mungkin sudah biasa dengan rutinitas padat di perkotaan, jauh dari kentetraman kampung halaman, lalu pulang yang katanya hanya beberapa hitungan kali dalam 365 hari. Namun,itu pilihan.
            Bagaimanapun, rumah selalu nyaman untuk disinggahi. Ruang TV selalu menjadi ruang favorit untuk saling berbagi . Mungkin benar adanya yang mereka bilang, rumah itu surga.
            Mimpi yang dulu tertulis rapi di dinding-dinding kamar yang membawaku ke kota ini. Meninggalkan jejak kaki di jalan yang pernah kutapaki jauh di pinggir barat pantai sumatera. Katanya mimpi itu harus dikejar, dan aku masih dalam proses mencoba,masih dalam scenario, mengikuti apa yang diisyaratkan-Nya tanpa pernah tau kemana perjalanan ini akan berlabuh.
            Mendengar cerita-cerita dan membaca tulisan tentang bagaimana suatu tempat bisa merubah hidup kita, sikap dan kebiasaan kita. Hampir 20 tahun terlahir dan aku merasa lemah . Lemah karena selalu merasa pilu saat sadar jauh dari orang tua, lemah karena sadar bahwa umurku bertambah dan orang tuaku semakin menua, suatu hal yang tidak mau aku sadari sebenarnya tapi terpaksa.
            Aku membangun sekuat-kuatnya pondasi untuk berpijak disana, menyusun potong demi potong asa yang harus menemui satu titik terang. Namun pertahananku harus kulepaskan untuk pertahanan yang baru , pertahanan yang mulai kubangun tepat 1,5 tahun yang lalu. Di kota tempat beribu orang menaruh harapan untuk kehidupan(namun sebagian harus kalah karena ketidaksabaran). Kehidupanku(sekarang), jauh dari hingar bingar ombak yang aku hampir bosan mendengarnya(dulu), jauh dari pepohonan yang menjadi ladang penghasilan, jauh dari kesunyian yang datang kala malam tiba(tapi tetap saja,hatiku tidak pernah sunyi berada disana), jauh dari perbukitan hijau yang berbaris menyejukkan mata.
            Aku menulis ini bukan ketika aku bersiap untuk kembali memulai pertarungan. Aku menulis ini ketika…… hati sudah tidak bisa berkompromi, jiwa yang sudah lelah dan merasa ingin kembali . Tapi mimpi, memaksa untuk bertahan dan jangan pernah pergi, apapun yang terjadi.
                                                                                                            Bintaro, 22 Maret 2017

                                                            Penikmat langit barat sumatera, dengan perasaan rindu

1 komentar: