Senin, 03 Juli 2017

#MYLIFE7 WELCOME ROUTINITY!



Welcome Routinity!
Setelah libur lebar-an 2 minggu dan sekarang harus kembali berjuang . Berjuang !!!! Yeeeeh , berjuang !!!!!! sebenernya, banyak yang ingin ditulis, kemarin(ketika liburan). Namun, ketika sudah dihadapkan dengan layar laptop, semuanya byaaaaarrrrr lupa begitu saja.
Ohya, selain itu banyak juga pembelajaran yang didapat ketika liburan, mulai dari petuah petuah ringan dari saudara saudara dan orang tua sampai dengan pelajaran/ceramah yang bergema dimana-mana ketika Ramadhan.
Ketika kesempatan pulang yang hanya beberapa minggu dalam setahun, terkadang ada perasaan sedih dan ingin kembali ke masa-masa dulu, dimana bisa menghabiskan waktu berlama-lama dengan kedua orang tua, bisa membantu dan menemani orang tua kemana-mana(walau belum sepenuhnya). Sekarang, terasa susah, 20/365 tidak adil memang tapi begitulah fase tiap fase kehidupan yang dilewati, semakin bertambah umur semakin mendewasakan kita seharusnya. Namun, aku pribadi masih egois, bahkan masih belum mandiri untuk anak seumurku.
Merasa sedih dan tersadar sebentar ketika banyak yang bercerita tentang perjuangan ibu membesarkan anak-anaknya, tentang berapa beban yang harus dipikul seorang ibu dan ayah juga tentunya dalam mendidik dan menjaga(membesarkan) anaknya. Mulai dari 9 bulan ibu membawa beban berat kemana-mana(tapi ibu tidak menganggapnya beban). Anaknya 3, 3 kali juga ibu melakukan pengorbanan besar(memandikan, bagaimana caranya air tidak masuk ke telinga, menggendong kita kemana-mana, mengajari berjalan, bagaiman berdiri, bagaimana membaca dan mengaji, tidak ada kata jijik sedikitpun ketika ibu mengurus kita), ini adalah beberapa kalimat yang aku dengar dari seseorang. Sedangkan ketika sudah berumur dan ringkih, tiada satupun kemewahan yang orang tua harapkan, mereka hanya ingin doa, mereka ingin mendapat kiriman doa-doa ikhlas dari anaknya . Mereka tidak minta mobil mewah, tidak meminta rumah, tetapi mungkin sesekali mereka rindu, mereka ingin meminta sedikit waktu kita untuk dihabiskan bersama, mungkin mereka juga ingin kita hadir dikala mereka sakit , mereka mungkin ingin bercerita tentang hari tua mereka di taman belakang rumah. Itu semua karena mereka rindu dan ingin sedikit perhatian kita(beberapa cerita ini aku dapat selama pulang).
            Kata orang tua juga, bagaimana dan dimanapun kita nanti, jangan lupa mendoakan kedua orang tua, jangan lupa untuk pulang, jangan lupa rumah, jangan lupa menyisihkan waktu untuk mereka walaupun hanya dengan obrolan singkat, jangan lupa untuk selalu ada ketika mereka membutuhkan . Sekarang, umurku sudah hampir kepala dua. Pulang kemarin , teman dan tetangga semasa kecil dahulu banyak menebarkan kabar bahagia . Mulai dari kabar pertunangan mereka, kabar pernikahan mereka, dan sayangnya lagi ketika kabar bahagia itu datang aku tak bisa hadir untuk turut berbahagia.
            Selain itu, seperti biasa banyak acara-acara buka bersama ketika bulan Ramadhan . sayangnya, tak semuanya bisa kuhadiri karena memang aku ingin banyak menghabiskan waktu di rumah. Banyak juga kekecewaan yang aku dapatkan, kecewa karena terlalu banyak berharap pada manusia(curhat, hehe), yaudah lupain!
            Sekarang, H-13 UAS semester genap!! Saatnya untuk mengumpulkan semangat untuk bangkit dan berjuang! See you next year……kampung halaman!

Bintaro, 03 Juli 2017



Selasa, 23 Mei 2017

#MYSTORY11 Sore di stasiun kereta



Sore di stasiun kereta
Langit itu seperti memburuku
Kala aku senang  dia berwarna
Kala aku sedih dia kelam seperti tak berupa
Seperti katamu
Sore ini aku sendiri
Tidak seperti yang kuharapkan
Berdua bersamamu memburu langit dengan balutan jingga
Orang orang girang
Banyak yang berlalu lalang
Kereta juga bergantian datang
Ramai
Tetapi hatiku tidak
Duduk di sudut stasiun kereta
Fikiranku melesat
Secepat kereta yang meninggalkanku dalam balutan gelap pekat
Seandainya kamu disini mengahampiriku
Mengubah gundahku menjadi gairah
Tetapi kamu tidak
Resah ini ku lewati sendiri
Di tengah hiruk pikuk ibukota
Di keramaian yang tak pernah menjadikan hatiku damai
Di pelabuhan kereta tempat kesibukan dimulai
Aku sendiri
Senja kunikmati tanpa secangkir kopi
Tanpamu
Malam kuhamipiri  namun lidah ini tetap kelu untuk berucap rindu
Sore di stasiun kereta
Ternyata kau tak datang

Kamis, 13 April 2017

#MYSTORY10 andai kamu tahu:)



Dia masih menunggu
Bertahan dengan semua kenyamanan
Membiarkan hatinya tersiksa karena kerinduan
Dia tetap setia
Memelihara perasaan yang tak sedetikpun layu meski tak di siram
Memaksa batinnya diam
Karena perasaannya tetap sama seperti bertahun tahun lalu
Cinta pertamanya
Tak sedikitpun hilang dari ingatan
Bagaimana kata menjadi obrolan singkat yang kemudian menimbulkan senyum dan candaan
Kemudian beberapa hari bungkam, malu, sampai tak berbicara berbulan bulan
Dulu, apabila kamu masih mengingatnya
Berhari hari berusaha untuk tidak terlihat malu, untuk tidak terlihat cemburu, untuk perasaan suka yang sengaja ditutupi keberadaannya
Masih sama berbulan bulan setelah itu , tidak pernah sekilaspun dia berubah pandangan
Tapi mungkin kamu menganggapnya tak suka, menganggap semua hanya canda padahal semua nyata hanya saja dia tidak bisa dan ragu bagaimana dia harus bersikap saat itu
Pura-pura tapi kamu tidak bisa membaca kepura-puraannya
Entah bagaimana kamu dan dia akan ditakdirkan
Sejak bertahun-tahun lalu , semuanya dipendam tanpa pernah diungkapkan
Pernah diungkapkan tapi dia hanya menganggapnya angin lalu
Karena dia tahu, kamu  tak akan seserius yang dia mau padahal sudah sama tahu
Kamu pernah berkata yang tak pernah terduga olehnya
Tapi setelah itu sikapmu biasa , tak sesuai dengan apa yang dia harapkan
Sampai detik ini semuanya masih sama
Tidak ada yang membelokkan perasaannya
Tidak ada yang mengubah apa yang ada dihatinya untuk kamu
Hanya saja dia selalu berusaha untuk membunuh semua perasaan , membunuh semua angan yang telah ia rangkai sejak dulu, sejak tatapan berbeda itu mulai dia rasakan
Kamu pernah singgah ke banyak tempat tapi tetap saja tidak mengubah pandangannya terhadapmu
Dia ikhlas, dia juga sedang mengembara, mencoba untuk benar-benar melenyapkan kamu, setidaknya dalam lintas fikiran
Walaupun dihatinya tetap sama , walaupun perkataannya lincah saja berbohong tentang perasaannya, walaupun dia melihatmu masih bermain dan singgah ke tempat yang menurutmu nyaman tetapi menurutnya tidak,walaupun dia sudah berusaha namun gagal
Kamu harus sadar, dia tetap menunggu walau hujan tak kunjung reda, dia tetap menunggu walau kereta tak akan sampai, dia tetap menunggu walau telah ada yang menunggunya di tempat yang berbeda, dia tetap disitu walau kamu tak kunjung datang.
Karena,
Perasaannya masih sama,harapannya satu, bisa segera bertemu dan apa yang dirangkainya dari bertahun-tahun lalu bisa tersampaikan.
Dia tidak pergi, dia menunggu, dia setia, tapi kamu tidak sadar, semuanya percuma.
Percaya, takdir tidak akan tertukar. Tugasnya?  Melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Mengganti yang rusak, mencari yang hilang,menunggu walau yang ditunggu tak kunjung datang.




Selasa, 28 Maret 2017

#MYSTORY9 Jangan Sibuk Mencari yang Terbaik

Jangan terlalu sibuk mencari yang terbaik
Nanti kamu terlena akan kebaikannya
Jangan terlalu pandai memilih
Nanti dapat yang busuk dalamnya
Bersiaplah ,berencana!
Belajar bagaimana caranya untuk memantaskan diri
Karena menjadi terpilih bukan suatu kebetulan
Inginmu,inginku,ingin kita mungkin memang banyak
Tapi belajarlah untuk menjadi layak
Dicintai bukan hanya karena materi
Bukan hanya karena jasmani
Bukan hanya karena gengsi
Bukan hanya karena peduli
Seseorang bercerita tentang kenyamanan
Bahwa tidak peduli bagaimana rupa dan kehidupannya
Dia merasa dimiliki , dia tidak perlu memakai topeng untuk terlihat baik
Tidak memaksa untuk meninggalkan apa yang di sukai
Tidak menghentikan cita-cita yang dari dulu telah dia rangkai rapi
Dia merasakan bagaimana rasa itu dibangun dengan hati
Tapi mungkin sedikit yang menyadari
Karena masa kini, banyak hubungan hanya untuk sebuah pencitraan
Seseorang berkata lagi
Menilai hubungan tidak bisa dengan seberapa banyak dia menghabiskan waktu berdua
Seberapa lama nama seseorang menjadi penghias bio di beberapa akun social media
Seberapa dekat dia dengan keluarga pasangannya
Seberapa romantis dia membuat kejutan ulang tahun untuk pasangannya
Kenyamanan itu dimana mereka bisa saling mengerti dan melindungi
Hanya mereka yang tahu , mereka yang ciptakan(bukan malah mengikuti jejak-jejak pasangan lain karena disebut “relationship goals”)
Belajarlah untuk memantaskan diri. ,menjadi terpilih itu adalah sebuah penghargaan

Bintaro, 28 Maret 2017

Now Playing- Seberapa Pantas(Sheila On 7)







Rabu, 22 Maret 2017

#MYLIFE6 rumah

Meninggalkan kota yang telah bertahun-tahun membesarkan kita mungkin terasa berat. Namun, apa yang orang katakan itu benar, hidup itu pilihan . Tidak ada seorangpun yang akan mengabaikan hal yang katanya akan memperbaiki masa depan yang pada akhirnya mengacu pada memperbaiki keturunan. Hal yang paling tidak aku suka, beberap hari sebelum pulang keperantauan, meninggalkan(lagi) rumah yang bagiku lebih dari sekedar tempat berteduh, meninggalkan orang-orang yang tidak pernah lepas dari setiap apa yang aku semogakan.
            Aku tidak pernah mengerti mengapa bisa seberat ini kaki ketika hendak kembali(ke perantauan). Mengapa terasa riang sekali kaki ketika beberapa hari sebelum bertemu kampung halaman . Beberapa orang mungkin sudah biasa dengan rutinitas padat di perkotaan, jauh dari kentetraman kampung halaman, lalu pulang yang katanya hanya beberapa hitungan kali dalam 365 hari. Namun,itu pilihan.
            Bagaimanapun, rumah selalu nyaman untuk disinggahi. Ruang TV selalu menjadi ruang favorit untuk saling berbagi . Mungkin benar adanya yang mereka bilang, rumah itu surga.
            Mimpi yang dulu tertulis rapi di dinding-dinding kamar yang membawaku ke kota ini. Meninggalkan jejak kaki di jalan yang pernah kutapaki jauh di pinggir barat pantai sumatera. Katanya mimpi itu harus dikejar, dan aku masih dalam proses mencoba,masih dalam scenario, mengikuti apa yang diisyaratkan-Nya tanpa pernah tau kemana perjalanan ini akan berlabuh.
            Mendengar cerita-cerita dan membaca tulisan tentang bagaimana suatu tempat bisa merubah hidup kita, sikap dan kebiasaan kita. Hampir 20 tahun terlahir dan aku merasa lemah . Lemah karena selalu merasa pilu saat sadar jauh dari orang tua, lemah karena sadar bahwa umurku bertambah dan orang tuaku semakin menua, suatu hal yang tidak mau aku sadari sebenarnya tapi terpaksa.
            Aku membangun sekuat-kuatnya pondasi untuk berpijak disana, menyusun potong demi potong asa yang harus menemui satu titik terang. Namun pertahananku harus kulepaskan untuk pertahanan yang baru , pertahanan yang mulai kubangun tepat 1,5 tahun yang lalu. Di kota tempat beribu orang menaruh harapan untuk kehidupan(namun sebagian harus kalah karena ketidaksabaran). Kehidupanku(sekarang), jauh dari hingar bingar ombak yang aku hampir bosan mendengarnya(dulu), jauh dari pepohonan yang menjadi ladang penghasilan, jauh dari kesunyian yang datang kala malam tiba(tapi tetap saja,hatiku tidak pernah sunyi berada disana), jauh dari perbukitan hijau yang berbaris menyejukkan mata.
            Aku menulis ini bukan ketika aku bersiap untuk kembali memulai pertarungan. Aku menulis ini ketika…… hati sudah tidak bisa berkompromi, jiwa yang sudah lelah dan merasa ingin kembali . Tapi mimpi, memaksa untuk bertahan dan jangan pernah pergi, apapun yang terjadi.
                                                                                                            Bintaro, 22 Maret 2017

                                                            Penikmat langit barat sumatera, dengan perasaan rindu

Kamis, 09 Maret 2017

#MYLIFE5 Takut Menjadi Dewasa Tak Berguna



Note : Tulisan ini tidak menyindir siapa-siapa. Hanya mencoba menulis apa yang difikirkan. Mencoba menyadarkan (terutama diriku sendiri) tentang fenomena zaman sekarang…….

Mencoba untuk menyadari bahwa tahun ini benar benar berkepala dua, dimana babak baru akan dimulai. Mencoba menjadi dewasa dan mulai berfikir jernih tentang apa yang akan aku lakukan setelah ini dan apa yang telah aku capai selama 20 tahun ini(nanti, sekarang belum genap).
            Kekhawatiranku bermula ketika aku membuka beberapa media social,  melihat beberapa anak muda yang membagikan beberapa cerita mulai dari mereka lagi dimana berbuat apa sampai beberapa tag2an yang menandakan mereka sedang bersama siapa. Ada yang kukenal beberapa dari mereka yang membagikan postingan tersebut. Ada yang kutahu bahwa mereka aktif di beberapa organisasi, ada juga mereka yang hobby kesana kemari mencari sesuatu entah apa itu, ada yang membagikan berita padahal dia sendiri tidak mengerti apa yang ada di berita tersebut, ada yang komen “cantik kak”, “taken by”, atau bahkan berkomentar yang sama sekali tidak sesuai dengan foto(kalau kata anak sekarang : nirfaedah) ,ada juga yang memakai identitas palsu bahwa mereka sebenarnya tidak seperti apa yang mereka tampilakan di media social.
            Oh ya, pasti kalian yang mengaku update pasti tau atau mungkin hafal dong dengan lagu “panj*t sosia*” . kalau diperhatikan liriknya, punya moral value tersendiri loh. Sebagai sindiran tentang bagaimana anak sekarang, tentang pencitraan, dan tentang fenomena anak sekarang . Sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari ke-update-an tersebut? Status? Orang-orang juga tidak menilai kita dari apa yang kita lakukan di media social loh, tidak efektif kalau hal tersebut dijadikan indeks penilaian(sama halnya dengan kalian menilai bahwa hubungan satu pasangan itu romantic hanya dari foto).
            Dibalik cerita-cerita tersebut, aku(yang termasuk juga pengguna media social) berfikir dan merasa takut jika aku menjadi dewasa yang tak berguna. Takut menjadi seorang mahasiswa kuliah-medsos, kuliah-medsos. Hehehe ,gak lucu juga sih ya. Tapi aku mengakui, ada kekhawatiran dalam diriku tentang kita(entah masih bisa disebut ABG  atau tidak). Tentang bagaimana kita dapat bermanfaat untuk orang lain, bagaimana kita berkontribusi terhadap hal-hal kecil di sekitar kita. Hanya merasa takut jika nanti menjadi tua yang membosankan tanpa pengalaman karena terlena akan keterbukaan media, terlena akan kemudahan jaringan, dan mungkin terlena akan teman. Apalah apalah…..

                                                                                                            Bintaro, 9 Maret 2016

                                                                                                                    -anak 90’an-