Sebenarnya aku merindukanmu
Paras biasa berhati sejuk bermata teduh selalu menenangkan
Yang dulunya sering bertatap namun tak mampu lama karena
kalah
Ragu menggunakan kata kita karena memang rancuh jika di
dengar
Seperti ada makna yang berbeda
Menatapmu sekarang dari kejauhan, jauh sekali
Berbincang sesekalipun kaku, namun senang, bahagia sekali
rasanya kemarin itu
Kemarin? Sepertinya terlalu cepat . Dulu, ya dulu
Memperhatikan setiap apa yang kau unggah
Dan jika kau tahu itu sangat menggugah perasaanku
Ingin sekali berkomentar atau menyapa hai tapi malu
Apalagi berkata rindu, ah untuk apa kan,bagimu? Karena bukan
siapa-siapa?
Aku ingin mendengar kau mengucapkan hal yang sama-seperti
kemarin-
Itu hanya harapanku, hanya alibiku
Padahal sebenarnya aku rindu
Tak apa-apa kau bercerita tentang siapapun itu-sekalipun itu
akan menyakitkan perasaanku-
Karena bukan ceritamu
yang menjadi fokusku-tapi caramu
Mengenai hal-hal yang kau tanyakan beberapa waktu lalu-namun
aku tidak mengerti maksudnya-
Ada harapan yang besar dari perasaanku-sebenarnya
Tapi begitu,mungkin kau tak terlalu tahu sifatku
Tidak tahu
pengharapanku
Lalu waktu membawanya begitu saja –mungkin sampai kau lupa
Sampai kau tidak sadar apa tujuanmu sebenarnya
Padahal aku penasaran
Padahal aku ingin bercanda bercerita lebih lama
Namun semuanya menghilang
Kabarmupun aku tak tahu
Apa sebenarnya kau rapuh dibalik semua hal yang kau unggah
Aku ingin tahu
Mulailah-mungkin aku bisa bertanya kabar sebagai pendahulu-
Menjelang Maghrib
H-13 UTS
Bintaro, 18 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar